Menjadi juara kelas? Berlaku baik kepada mereka?
Maaf, tapi aku sungguh tidak ingin berusaha lagi lebih dari ini.
Tahun ini, tepatnya kemarin, aku berumur 15 tahun. Dan ibuku memberikanku hadiah sebuah pena. Ini dilakukannya setiap tahun, sejak aku berumur 10 tahun. Aku tahu maksudnya, dia menyuruhku agar aku lebih giat lagi belajar. Agar aku menjadi anak yang sesuai harapan mereka.
Tapi apa yang bisa kulakukan? Tidak ada. Aku bukannya tidak berusaha. Tapi aku lelah berusaha. Sekeras apapun usahaku aku tidak bisa menjadi anak seperti yang mereka inginkan.
Ini tahun kesembilanku duduk di Sekolah Dasar. Ya, aku masih duduk di kelas 5 SD. Total tiga kali pindah sekolah dan dua kali tidak naik kelas. Aku harus berpikir keras untuk mengingat ini.
Seperti yang mereka tahu, aku selalu bolos sekolah, tidak mengerjakan tugas dan melakukan kenakalan-kenakalan remaja pada umumnya. Yang mereka tahu, aku bodoh karena itu.
Padahal yang mereka tidak tahu sangatlah banyak.
Aku lelah berusaha. Aku lelah ditertawakan.
-
-
Sejak dulu aku memang bukan anak yang bisa dengan mudah menerima pelajaran. Butuh waktu yang cukup lama--atau mungkin sangat lama--untuk mengerti yang kuterima.
Dua tahun lalu. Setelah pindah sekolah dan bolos beberapa minggu, untuk pertama kalinya aku masuk kelas.
"Pandu, ibu senang melihat kamu di kelas. Sering-sering masuk ya Pandu..." Basa-basi dari guru yang sudah sering kudengar.
Kemarin orangtuaku dipanggil dan menyuruhku untuk berada di kelas selama jam pelajaran. Kali itu aku coba menuruti mereka lagi.
"... Nah, pertanyaan no. 14. Berikut ini sinomin dari sikap sombong adalah?" Aku lebih memilih menggambar sesuatu dan tidak mendengarkan ucapan guru itu, namun...
"Coba Pandu yang jawab..."
Yang lainnya menatapku dengan lekat. Suasana kelas itu hening. Sepertinya aku benar-benar harus mengatakan sesuatu.
Bu guru mengulang pertanyaan dan kembali menatapku. Aku rasa aku tahu. Meskipun aku tidak kuat melihat deretan huruf di buku, tapi aku pernah mendengar kata-kata ini di tahun sebelumnya. Mungkin sebaiknya aku coba memjawabnya.
"Cong...klak?"
Lalu keheningan pecah oleh tawa anak satu kelas.
Lihat, aku sudah berusaha. Tapi apa yang kudapat? Aku mendengar beberapa bisik-bisik teman sekelasku yang mengataiku "Gede bodoh".
Hatiku panas. Pikiranku kalut. Aku marah dan segera keluar kelas setelah membuka pintu dengan kasar.
Mereka tidak akan pernah tahu, bahkan kedua orangtuaku.
Mereka tidak tahu usahaku ketika aku belajar tengah malam, mencoba membaca dan menulis. Tapi yang terjadi, aku hanya merusak buku dan alat tulisku karena kesal.
Mereka tidak akan pernah tahu, apa yang aku rasakan.
-
-
"Pandu..."
Kakakku Gayatri menghampiriku yang sedang mengutak-atik mobil tamiya-ku. Sejujurnya aku tidak tahu harus melakukan apa ketika roda ban mobil itu macet.
"Kakak masuk ya..." Kakakku duduk di pinggir tempat tidurku sambil terus melanjutkan omongannya.
"Kakak tadi siang bertemu dengan, Bu Lusi, guru BK-mu di SD Pelita..." mendengar nama guru itu, aku menghentikan aktifitasku dan menatapnya marah.
"... beliau bilang, mungkin saja kamu menderita disleksia... jadi..."
"Jadi apa? Kakak mau bilang pada ayah dan ibu? Kakak mau bilang kalau anaknya mengidap penyakit bodoh seperti itu?!"
"Pandu..."
"Kakak nggak akan ngerti! Pergi sana!!"
Aku menatap kakakku dengan tatapan yang dingin.
Ya, tiga tahun yang lalu, saat pertama kali aku pindah sekolah. Bu Lusi sebagai guru bimbingan konseling menghampiriku. Mengujiku dengan beberapa pertanyaan sederhana. Karena pertanyaannya sangat mengganggu kalau tidak dijawab, maka aku mengikuti apa yang dia inginkan. Tapi yang kudapat adalah kemungkinan yang pahit.
Hari selanjutnya guru itu memanggilku kembali dan memberitahukan nama penyakit yang sampai sekarang sangat kubenci. Penyakit itu membuatku semakin putus asa terhadap hidupku dan semakin membuatku tidak peduli dengan pendidikanku.
Namun aku tidak bisa mengatakan semua itu kepada mereka.
Mereka berharap aku seperti kakakku, Gayatri. 
Anak yang banyak memenangkan lomba akademis dan membuat mereka bangga.
Tapi aku bukanlah kakakku yang berprestasi dan berwawasan luas. Yang bahkan di umurnya yang ke 17 tahun, pembicaraannya dengan ayah seputar korupsi--kata yang hanya bisa kudapatkan ketika sedang menonton acara berita.
Aku bukanlah kakakku.
Aku tidak bisa memenuhi harapan mereka. Tapi bukannya inginku seperti itu.
Yang mereka tidak tau, aku tidak ingin semua ini terjadi padaku.
Hope 
By 
‪#‎Zu‬
‪#‎PromptNightOWOP‬
‪#‎CongklakPenaKorupsi‬
‪#‎LinkOWOP‬

0 komentar:

Posting Komentar