Aku iri pada bintang.
memiliki banyak teman dan bersinar terang.
Aku iri pada angin, yang tahu arah dan tujuan
menerjang cepat penuh kekuatan
Aku iri pada hujan, 
meski merasakan sakit jatuh berkali kali
namun tetap mampu hadir kembali
"Hei, kamu anak kecil berbaju putih, sedang apa kamu disitu?"
"menanti jawaban", jawabnya
alisku berkerut, "jawaban?"
"baru saja aku bertanya pada Tuhan, untuk apa aku dilahirkan"
"lalu?"
senyumnya hilang, manik mata yang sedari tadi menatapku menunduk, sedetik kemudian kulihat gelengan kepala menghiasi kalbu nya.
"entah, Tuhan belum menjawabnya"
Mungkin, aku tahu bagaimana rasanya.
merasa kecil dari sebagian besar dunia.
Hampa.
Karena bahkan apabila aku mati, dunia pun akan terus berjalan tanpa aku ikut campur didalamnya 
Lalu apa fungsi ku untuk berada disini?
Mungkin aku tahu bagaimana rasanya.
mencari-cari jawaban akan jadi apa aku nanti.
bukan seperti Isaac Newton yang mengenal mekanika sejak kecil
bukan seperti Columbus yang gigih berlayar mengarungi dunia
bukan, bukan. aku hanya.. manusia.
bukan manusia hebat, ataupun manusia penuh keajaiban.
hanya manusia.
Mungkin aku tahu bagaimana rasanya
2 dasawarsa aku hidup. dan aku masih tersesat.
tak tau arah tujuan, teman pun hanya pajangan.
Aku kembali lagi,
alih-alih mencari jawaban yang sama atas jawaban yang anak kecil itu cari.
kutemukan anak kecil berbaju putih itu sedang sendirian dan
sepertinya ia memang selalu sendirian
"apakah Tuhan sudah menjawabmu?"
ia menggeleng lagi.
sudah kuduga.
belum sempat aku berbalik badan, namun ia seperti mengusikku.
tak kulihat lagi pendar kecewa di wajahnya
gelengan kepalanya tak selesu dulu
aku kembali bertanya
"lalu, apa kau akan bertanya lagi?"
"Tidak, aku tak perlu bertanya lagi, aku sudah tahu apa jawabanya"
kembang api disana menyala lagi
dibawah langit malam dihiasi bintang bintang
kembang api itu meluncur bahagia mewarnai langit
"aku diciptakan Tuhan, untuk melihat bintang, untuk merasakan angin, dan untuk bertemu hujan"
wajahnya menengadah, menatap bintang bertaburan dilangit sana
"sudah cukup bagiku dapat melihat semua keindahan ini, sudah cukup bagiku dapat bernafas hingga saat ini, aku hidup untuk menikmati ini dan berterimakasih pada-Nya"
deg
hatiku bergemuruh saat ia menatapku...
dan ia, tersenyum.
mungkin, aku juga sudah menemukan jawabanku.
-------------------------
By, Suciati Cipta Sejati / Cici
Tangerang, 19 December 2015

0 komentar:

Posting Komentar