"Ada yang berbeda di kala itu. 
Tentang aku yang tidak menyadari kau memperhatikan 
dan tentang kau yang sedang mempersiapkan untuk datang."
Sepasang mata itu menatap menimbang di ujung sorak sorai penonton. Sepasang mata yang tidak pernah disadari kehadirannya oleh seorang wanita yang sedang sibuk bercerita. Wanita itu duduk di panggung, pria itu duduk di belakang terlindung dari balik kepala-kepala manusia yang duduk dihadapannya.

Ia duduk penuh misteri. Tidak ada yang menyadari kerutan di keningnya yang sedang berfikir keras. Ia sedang menimbang—pria itu sedang menimbang sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. 

Tatapan kedua matanya memandang lurus ke depan. Ia sedang memperhatikan. Wanita itu tersenyum, pria itu juga melakukan hal yang sama. Wanita itu tertawa, pria itu merasakan hangatnya sang tawa wanita. Ia meresapi setiap kata yang sedang ia dengar. Berharap kata-kata yang menari-nari dari bibir sang wanita dapat meyakinkan hatinya yang sedang sibuk berdoa.

Wanita itu tidak pernah menyadari ada yang diam-diam berdoa di ruangan yang sama dengannya. Pria itu tahu, kehadirannya tidak masuk dalam radar sang wanita. Ia menyadari dengan pasti bahwa pandangan wanita itu tidak pernah tertuju kepadanya. Tawa wanita itu tidak mengarah kepadanya. Kehadirannya memang jauh dari jangkauan mata, ia duduk terlalu jauh di belakang. Tapi satu yang ia yakini, bahwa do’a-do’anya yang sedari tadi diucapkan dalam hatinya sedang bergerak cepat menuju langit yang terletak jauh di atas sana.

Lalu acaranya selesai. Sang wanita sempat menatapnya sekilas tanpa curiga. Mengangguk sopan kepadanya, tersenyum manis yang berhasil membuat hatinya meronta, lalu pergi meninggalkannya. Pria itu hanya sanggup menatap kepergian sang wanita tanpa bicara— hanya do’a-do’a yang sanggup menariknya agar suatu saat sang wanita menyadari kehadirannya.
****
Di hari-hari selanjutnya, hujan jatuh terlalu pagi. Allah memberi peluang kepadanya sedari pagi untuk terus meminta kepada-Nya di kala hujan. Do’a dikala butiran-butiran sejuk air hujan jatuh ke bumi, cepat dikabulkan bukan? 

Lalu doanya terucap, sama persis seperti apa yang ia ucapkan di acara waktu itu—ribuan malaikat yang turun bersama hujan tersenyum kemudian mengaminkannya.

Di tempat lain, sang wanita berada di acara pernikahan. Tiba-tiba melakukan hal yang jarang ia lakukan sebelumnya ; datang ke pernikahan di kala akad. Ia mengincar do’a setelah ijab qabul. Katanya, do’a setelah ijab terucap cepat sampai ke langit, kan? Ia berdo’a dengan keseriusan yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Air matanya hampir jatuh karena ia menginginkan doanya segera dikabulkan. Berharap semoga Allah menganggapnya sudah pantas untuk berada di panggung yang ia lihat dihadapannya sekarang.

Lalu doa wanita itu terucap, ia ingin pangerannya segera datang—ribuan malaikat yang turun mendoakan pasangan yang menikah, mendengar doa wanita itu kemudian tersenyum lalu mengaminkan.

Mereka berdua tidak tahu, do’a mereka berdua bertemu bersama di atas langit. Dua jam kemudian wanita itu membuka telepon genggamnya, kedua matanya terbuka lebar. Ia menunjukkan sesuatu kepada kedua orang tuanya, ayahnya menangguk dan membisikkan sesuatu di telinganya, “Jawablah dengan menuliskan nomor telepon genggam ayah, nak.” Sang wanita mengangguk, menuliskan sesuatu selama beberapa saat dan menekan kotak biru bertuliskan ‘send’.

sementara di tempat lain, pria itu masih berdoa di tengah hujan yang turun,

“Aku percaya, suatu saat hujan yang aku tunggu itu pasti datang. Jatuh tepat di hatiku dan aku dengan senang hati menerimanya. Karena ia bukan hujan yang membuatku kedinginan. Ia bukan hujan yang menimbulkan banjir bandang atau hanya sekedar genangan kotor yang menjijikkan. Jodohku pasti datang tepat waktu sebagai hujan yang membawa berkah dari-Mu di saat hatiku sedang benar-benar kekeringan. 

Aku bersabar karena aku yakin akan ada masa di mana hujan itu datang lebih indah dari biasanya. Ya Allah, di tengah berkahnya hujan turun ini aku berdoa kepada-Mu : "Semoga dialah hujan berkah itu.” Ujarnya berdo’a sembari menggenggam erat telepon genggamnya.

Telepon genggamnya tiba-tiba bergetar, lalu semua malaikat yang menyaksikan tersenyum bahagia.

Penulis: Nadhira Arini
Sumber: http://www.nadhiraarini.com/2016/06/doa-yang-bertemu-di-langit.html

0 komentar:

Posting Komentar